Oleh: WhiteRose | Februari 1, 2010

SKANDAL

Febri termenung..pikirannya melayang ke beberapa waktu yang lalu, dihatinya ada suatu sesal yang teramat sangat mengapa dia harus kenal dan dekat dengan lelaki bernama Kin yang notabene adalah adik iparnya sendiri. Kisah dekatnya berawal dari Telepon dan SMS yg masuk ke HPnya dari Kin. Awalnya dia tidak curiga sedikitpun ttg adik iparnya itu. Setiap SMS yang masuk ditanggapi biasa saja. Sampai Kin menawarkan bisnis kartu kredit dan Kin datang ke kantornya siang hari itu, Febripun menanggapinya biasa2 saja..tidak ada perasaan atau feeling apapun juga.

Namun setelah kedatangan Kin itu, SMS berikutnya sudah perlahan menjurus ke pujian..yang Febri sexy..cantik dll…, SMS Kin itupun membuat Febri gerah…, dan akhirnya tanpa disengaja suami Febri membaca SMS rayuan Kin itu yang sebelumnya oleh Febri lupa dihapus. Febri sengaja menghapus SMS2 Kin yang masuk supaya menghindari dari keributan suaminya dengan adik iparnya sendiri. Namun mungkin Allah berkehendak lain, suami Febri membaca sms itu…awalnya marah dan ingin melabrak langsung namun Febri berhasil meredam dan meminta suaminya membiarkan saja yang terpenting dari Febrinya tidak meladeni.

Keesokannya Febri tidak meladeni SMS dari Kin yang dikirimnya selalu disaat jam kerja kantor. Dan dari sms itu terjadi pertengkaran karena bagi Febri sms Kin sudah keterlaluan. Menurut Febri , Kin hanya memandang wanita sebagai obyek sex saja. Dan saat hari Minggu Kin meminta maaf dan entah karena kesibukan masing2 terlebih Kin sudah pindah kerja di daerah Jakarta Barat, Kin tidak menghubungi Febri lagi hingga beberapa bulan lamanya dan Febripun tidak ingin mencari tahu.

Hari berganti dan bulan berganti…Tak pernah diduga dan tak pernah disangka Kin menghubunginya kembali. Kali ini lebih intensif dari sebelumnya dulu, lebihbanyak bercerita tentang kehidupannya dan “peyem”2nya. Memang banyak diakui orang, Kin tergolong lelaki yang supel dan ramah. Tidak sedikit wanita yang terjerat olehnya.

Singkat cerita komunikasi antara Kin dan Febri berjalan lancar, Kin selalu menghubungi Febri disaat berada di kantor. Dan Kali ini Kin menawarkan bisnis kartu kredit yang awalnya ditanggapi oleh Febri biasa saja.  Febri ingin konsultasikan bisnis ini ke suami Febri tapi Kin tak ingin ada yang mengetahuinya, dan akhirnya dibiarkan mengambang begitu saja. Lalu hubungan Kin semakin dekat tanpa istri Kin mengetahuinya terlebih seelah ada beberapa kejadian yang membuat Kin beserta anak dan istrinya harus pindah rumah dan tinggal menjadi satu rumah di rumah orantuanya istri dari Kin yang dimana Febri pun tinggal disitu.

Rasa cinta dan sayang Kin sudah ada dan dengan lebih dekatnya Kin tinggal bersama Febri dalam satu rumah, maka tidak ada jarak lagi mereka berdua. Pada suatu ketika Kin menjemput Febri yang ijin pulang siang dar kantornya dan kebetulan Kin melewati kantornya Febri. Merekapun akhirnya pulang berdua dengan nak motor, namun di tengah perjalanan Kin bilang mau lihat rumah operasi kartu kredit dulu sebelum mereka pulang. Febri tidak ada perasaan buruk dan pikiran jelek saat itu. Akhirnya mereka berdua ke suatu daerah yang namanya PuloGebang. Rumah itu kosong dan kotor.  Rumah itu bekas rumah usaha cattering . Masuk kedalam rumh itu agak singup suasananya.., Febri sesaat bingung dan bertanya untuk apa Kin mengajaknya kemari. Febri duduk ditepi seperti kolam kering yang berada di tengah ruangan rumah itu. Sebelah kanan ada lemari dapur putih kusam dan di ruangan kecil yang tidak jauh dari lemari itu ada kamarmandi. Disebelah kiri ad ruangan yang kosong bekas kamar, ada jendelanya namun tertutup. Di ruangan itulah Febri diajak dan dipaksa melayani nafsu Kin. Febri menolak, namun Kin tak putus asa memaksa dan melobi dng oralpun tidak apa2. Dengan amat sangat terpaksa Febri melayani, berharap hal ini segera selesai. Setelah Kin melampiaskan nafsunya, mereka bergegas pulang karena waktu untuk menjemput istrinya Kin sudah mepet, Kin tidak ingin istrinya timbul pikiran macam-macam ke dirinya. Dan itulah yang selama ini sangat di jaga Kin..yang pintar mengelabui siapapun termasuk istrinya. Kin sendiri pernah bercerita kalau disaat anaknya masih satu, dia pernah meniduri beberapa wanita salahsatunya kepala kasir swalayan ” HH ” (dalam initial) cabang fatmawati yang sebagai cem2annya, orangnya tidak gemuk , pendek tapi lumayan cantik.

Kin , lelaki Playboy yang tidak ingin keluar modal dan berprinsip kalau menguntungkan kenapa tidak. Kepala kasir supermarket itu pernah juga diajak ke rumah kakaknya di Rawa Lumbu ( Pekayon) , Kin memang punya kunci cadangan rumah itu karena rumah kakaknya merupakan  salahsatu rumah operasi kartu kredit dan kakaknya tiap hari senin – jumat dari pagi – sore tidak ada dirumah karena mengantarkan istrinya bekerja di daerah lokasari. Sedangkan anak dari kakaknya di titipkan ke rumah mertua kakaknya yang tidak jauh dari rumah kontrakan . Febri kala pertama pernah mau diajak oleh Kin kerumah kakaknya setelah  mereka berdua pulang dari Tangkubahu Perahu. Mereka berdua pergi tidak ada seorangpun yang tahu dan tidak ada seorangpun yang curiga. Mereka pergi dengan mobil Terrano biru yang pegangan setirnya bergetar karena itu bukan mobilnya Kin. Namun kali ini Kin tidak membuat Febri mendorong motor seperti sewaktu mengajak istrinya dulu. Selama mereka berdua ke Tangkuban Perahu Istrinya Kin mengira kalau Kin ada interview dan test yang dari pagi – sore. Semua sudah dalam skenario.

Lagi2 itulah Kin, pintar mengarang cerita kepada siapapun untuk menutupi sesuatu. Kala pertama Kin gagal mengajak Febri kerumah kakaknya karena terbentur waktu yang mengharuskan dia menjemput istrinya dan cuacanya yang hujan saat itu. Namun kala kedua Kin berhasil mengajak Febri kerumah kakaknya dengan alasan mau ambil tagihan kartu kredit dari operasinya. Rumah kontrakan kakaknya berpagar hitam dengan konsep minimalis namun terlihat gersang karena tidak ada satupun tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah kontrakan kakaknya itu. Masuk ke dalam rumah kakaknya ada ruangan tamu kecil yang dibatasi lemari  besar yang di belakang lemari itu difungsikan untuk ruang keluarga. Disamping kanan ada meja makan dan disisinnya kamar mandi yang posisinya agak rendah dari dataran ruang tamu. Disamping ruang tamu ada kamar yang digunakan khusus untuk sholat. Kamar sholat itu berjendela sehingga  bisa melihat keluar. Lalu di ruang keluarga yang hanya ada TV dan hambalan serta sofa besar di ujungnya, di samping kirinya ada ruangan yang penuh baju2 kering yang belum sempat diseterika. Dan disebelah kanan ada kamar  si empunya rumah. Kamar itu ACnya tidak terlalu dingin dan berjendela. Ada boneka milik anak kakaknya. Dan dikamar itulah Kin berani memaksa ketiga kalinya dari kunjungan Febri yang kedua kerumah kakaknya itu. Jebol sudah pertahanan, Febri menganggapnya itu perkosaan karena Febri tidak merasakan nikmat samasekali karena Febri menangis sejadi jadinya walau pada akhirnya Kin berhasil meyakinkannya bahwa Kin sungguh mencintainya melebihi apapun melebihi istrinya sendiri. Bersama Febri,Kin lebih bergairah. Lalu Kin sedikit bercerita tentang kehidupan sexnya dan hubungannya bersama istrinya. Febri beranggapan kalau perselingkuhan Kin selama ini ke wanita2 lain karena kurang penghargaan si istri terhadap diri Kin dan kurangnya pelayanan dalam hubungan suami istri. Setelah kejadian di rumah kakaknya itu. Kin memang lebih perhatian lagi ke Febri. Dan tidak disangka atas kejadian itu, foundation mabelline berbentuk tube warna hijau nya Febri ketinggalan dikamar kakaknya Kin dan ini menjadi sedikit masalah karena yang menemukan foundation itu adalah istri dari kakaknya. Istrinya mengira suaminya yang membawa wanita lain ke kamarnya, namun entah skenario apa yang dijalankan Kin ke kakaknya, akhirnya masalah itu lewat begitu saja. Kakaknya tahu bahwa ada hubungan terlarang antara Kin dengan Febri. Dan kakaknya berusaha menasehati Kin dengan caranya namun tidak berhasil dan kakaknya mengambil langkah diam dan do’a.

Waktu terus berjalan dan serentetan kejadianpun terjadi.

Suatu hari Kin datang ke kantor Febri, menceritakan dirinya yang sudah lama tidak bekerja dan menanyakan pekerjaan apapun ke Febri asalkan dia  mendapatkan uang untuk menghidupi keluarganya. Febri tidak tega dan Febri menawarkan pekerjaan yang sifatnya freeland, yaitu sebagai supir pengantar barang apabila dikantornya membutuhkan. Dikantor Febri bila pengiriman padat tidak bisa mengandalkan hanya dengan 1 mobil saja, maka alternatif lain dengan menggunakan taxi. Dan semenjak ada Kin, alternatif taxi itu digantikan dengan mobilnya yang tentunya pembayarannya disesuaikan denan tarif taxi yg berlaku.

Seminggu sekali atau lebih, Kin mendapatkan job dari Febri dan setiap ada pengiriman barang ke counter, Febri selalu berbohong ke Kin mengenai ongkos tarif yang diberikan kantornya. Febri selalu menambahkan dari uang pribadinya untuk Kin, misalnya seharusnya hanya 150ribu upahnya tapi sama Febri diberikan 300ribu. Febri lakukan ini semata mata karena ingin menolong Kin. Dan Kin sesekali berbohong ke istrinya kalau dalam pengiriman barang itu tidak bersama Febri, padahal kenyataannya Febri selalu mendampingi Kin dalam pengiriman barang dan hanya 1 kali Febri tidak mendampingi. Entah apa maksudnya Kin membohongi istrinya namun sesekali Kin pernah berkata bahwa dirinya lakukan itu untuk menjaga perasaan istrinya yang pencemburu itu. Kin juga melarang Febri untuk cerita ke suami FEbri kalau adik iparnya meminta pekerjaan ke Febri. Namun Febri diam2 tanpa sepengetahuan Kin, menceritakan semua ke suaminya dan selalu meminta pertimbangan bila ingin mmberikan Job ke Kin dan suami Febrilah yang menyarankan untuk selalu memberikan lebih ke Kin, memandang semata2 menolong ke adiknya sendiri.

Begitulah..dari minggu ke minggu dan selama Kin tinggal bersama Febri dalam 1 atap, setiap minggu itu pulalah diadakan refreshing keluarga, yang ke Pelabuhan Ratu, menginap di Mega Mendung Permai, Berenang di beberapa tempat, Sewa villa di Cimelati, Sewa villa di sukabumi dan masih banyak laiinya. Dari setiap jalan2, makan2, dan acara yang lainnya suami Febrilah yang selalu keluar uang. Kin dankeluarganya hny bermodalkan sarana mobilyang mereka punya, semua biaya dari suaminya FEbri, lagi2 semata2 memandang adik sendiri. Suami Febri memang baik kepada siapapun , selalu ingin membantu bila ada orang yang kesusahan, saudara2nyapun banyak menyukainya.

Dengan bersamanya Kin dalam 1 atap bersama Febri, semakin membuat mereka tidak terlalu kesulitan berkomunikasi. Kapanpun mereka mau, mereka bisa bicarakan. Dan situasi seperti inilah yang menguntungkanKin, karena setiap saat bisa memantau Febri bersama suaminya. Kin mempunyai kecemburuan yang luarbiasa ke Febri, dia tidak ingin melihat Febri mesra dengan suaminya. Febri pernah berkata ke Kin, kalau dirinya punya kebiasaan ritual suami istri, yaitu kalau mau berangkat kerja saling berpelukan dan mencium suaminya dan pulang kerjapun begitu sambil berkata  I love you. Ritual Febri ke suaminya itulah yang tidak disukai Kin. Pernah pula Kin berpikiran ingin melenyapkan suaminya Febri agar Febri tidak ada lagi yang menyentuhnya selain dirinya. Namun tak bosan2nya Febripun menasehatinya. Kin begitu cemburu dengan pelayanan Febri ke suaminya yang tidak pernah dilakukan istrinya ke dirinya, pelayanan yang penuh cinta dan hot erotis  baik di tempat tidur maupun dalam kesehariannya. Tidak jarang Febri dan Kin disaat malam tebangun bersama dan berbicara bisik2 di depan kamar mandi dan tidak jarang pula mereka berdua khilaf melakukan hal yang tidak sewajarnya sebagai saudara. Pernah hampir terpergokin oleh istrinya Kin namun beruntungnya waktu itu Febri ingin merapatkan tirai kamarnya  dan tidak disangka istrinya Kin keluar dari kamar, bila telat beberapa detik, maka terbongkarlah skandal mereka. Saat terpergok itu Febri urung untuk keluar dari kamar lagi. Febri hanya mendengar Kin dan istrinya kasak kusuk . Keesokan harinya Kin bercerita kalau semalam dengan rayuan mautnya Kin membuat istrinya untuk tidak curiga apa2 dan sebagai penutup supaya istrinya tidak curiga ,Kin melakukan ML dengan istrinya Kin walau pada saat melakukan itu yang ada di pikirannya cuma Febri dan yang membuat terangsang Kin cuma Febri. Febri mendengarnya tanpa terbakar cemburu. Dan diam2 Febri mengkonsultasikan hal ini ke kakaknya Kin yang pada saat itu ada bisnis tambahan antara Febri dan Kakaknya Kin. Kakaknya Kin menyarankan agar secara perlahan2 menjauhi Kin dan kakaknya akan konsultasikan ini ke orangtuanya Kin. Kakaknya memberitahu bahwa mungkin dalam waktu dekat Kin harus segera keluar dari rumah itu karena situasinya sudah tidak kondusif lagi baik dari sisi Febrinya maupun dari sisi mertuanya Kin. Karena semenjak kehadiran keluarganya Kin dalam 1 rumah dengan Febri dan mertuanya, tanpa disadari terdapat banyak timbul masalah, dari masalah pembantu, masalah makan, masalah kewajiban yang sdh ditetapkan dan masalah sifat dan karakter orang yang berbeda2 itu. Febri juga menceritakan ke kakaknya Kin kalau Kin diam2 suka minta uang ke dirinya tanpa istrinya Kin mengetahuinya, awalnya sih bilang pinjam tapi gak pernah dibalikin. Dari uang tunai sampai ATM BNI Febri yang terkadang dipinjam Kin untuk transfer bayar iklan beberapakali  dan yg lain  juga gak pernah diganti.

Pernah pula suatu hari dari kunjungan ke 3 kalinya Jakarta-Solo. Dari kepergian pertama kalinya ke Solo bersama keluarganya Febri dan Febri menyewa mobilnya Kin, yang kedua kalinya Febripergi bersama adiknya dan mbah serta buliknya yang  menyewa mobilnya Kin dan yang ketiga kalinya saat Kin berantusias  ingin menyusul Febridari acara sunatan anaknya Febri di Solo. Dari setiap ke Solo antara Febri dan Kin ada kejadian dan kisah yang indah tersendiri. Dan hanya segelintir orang yang mengetahuinya.

Tiga kali perjalanan Jakarta- Solo dengan Kin, 3 kali itu pula selalu ada kisah yang mendalam diantara keduanya, dari hotel sampai ke lesehan malam yang namanya Geladak Solo. Kenangan yang tidak mudah dilupakan. Kenagan yang hanya bisa dirasakan oleh Febri dan Kin karena disanalah Kin menyatakan ingin memperistrinya kelak tapi dengan suatu syarat bila menjadi istrinya Kin, Febri dilarang memberitahukan kesemuanya baik dari pihak Kin ataupun dari pihak Suaminya Febri yang notabene adalah kakak iparnya Kin sendiri. Kin menginginkan Febri suatu hari bercerai dari suaminya dan Kin setelah itu akan melamar Febri dengan kawin siri yang hanya dari pihak keluarga Febrilah yg mengetahuinya. Entah kenapa Kin menjadi begitu menginginkan Febri. Febri hanya merasa dan berpikir dengan cara Kin seperti itu, Febri tidak merasa di posisi yg menguntungkan. Disatu sisi keluarga Kin utuh tp disatu sisi Kin menginginkan perceraian di keluarga Febri.

Kala pertama ke Solo dengan Kin , Febri menyewa mobil Kin dengan membawa serta suami dan anak2nya dengan tujuan berlibur. Walau pada akhirnya acara liburan itu sendiri kurang berkesan karena Kin dianggap terlalu mencampuri. Dari yang semulanya direncanakan jd berantakan. Dan Febri seolah Kin hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Semisal dari acara yang seharusnya kita gak perlu mampir ke tempat bulik Febri di jogya jadi harus mampir karena sewaktu kita hanya berkunjung ke candi Prambanandan langsung pulang lagi ke Solo dengan pertimbangan Anaknya Febri yg kecil sedang tidak sehat tapi gara2 Kin yang ingin menunjukkan tempat makan angkringan yang ternyata letaknya jauh ( yg seharusnya perjalanan mencari makan itu bisa dengan sampai lagi di Solo)  jadi membuat kita sekeluarga mau tidak mau harus mampir ke rumah Buliknya Febri kaena lokasi temapat makan itu terletak gak jauh dari rumah buliknya Febri. Betapa gondoknya Febri, terlebih setelah itu Kin tidak menginap di rumah buliknya Febri. Ternyata Kin sudah menyusun rencana sedemikian rupa supaya kita bisa bermalam di Jogya, sehingga Acara  Kin yang ingin bertemu seorang wanita yg dulu pernah dekat sewaktu Kin dinas ke Jogya terpenuhi. Malam itu Kin pamit dan tidak menginap di rumah buliknya Febri. Kin pergi menemui wanita itu (yang besoknya akan melangsungkan pernikahan) dan mengajaknya keluar malam. Malam itu Febri tidak bisa tenang, memikirkan putrinya yang rewel dan tidak sehat. Febri memutuskan untuk besok pagi2 naik kereta prameks memulangkan dan minitipkan Putrinya dengan mbahnya di Solo, karena khwatir putrinya kecapekan bila besok memaksakan diri untuk berlibur ke pantai. Sederet acara berantakan dan bagi Febri tidak berkesan sampai pada akhirnya disaat perjalanan pulang melewati jalur selatan. Awalnya Febri marah dengan Kin..tapi entah kenapa lagu “Tercipta Untukku”-nya Ungu yang diputar berpuluh2 kali membuat diri Febri berkesan terlebih setelah dari Solo itu..Kin menjadi semakin dekat..dekat..dan dekat.., dan kenangan kala pertama ke Solo dengan Kin adalah Febri memberikan Kin kaos berwarna ungu bergambar motif jawa..yang sampai sekarang dipakai oleh istrinya Kin..karena Kin tidak bilang ke istrinya kalau kaos itu pemberiannya Febri.

Perjalanan ke Solo yang kedua , Febri hanya bersama mbahnya ,bulik dan adiknya Febri. Lagi2 menyewa mobilnya Kin yang jatuh pada bulan Ramadhan. Terpancar betapa senangnya hati Kin karena Febri pergi tanpa suaminya sehingga tidak ada yang perlu dicemburui di perjalanan. Kenangan makan di restoran “PringSewu” dan sholat di sana yang anginnya sepoi2 dan hanya Febri dan Kin di mushola itu. Yang sebelumnya mbah dan bulik serta adiknya sholat terlebih dahulu. Dalam perjalanan pun..tak sekali antara Kin dan Febri  mencuri kesempatan untuk bisa bersentuhan tangan saat malam membawa penumpang di belakangnya tertidur lelap. Hanya Kin dan Febri yang terjaga..dan mereka berdua menciptakan pandangan dan sentuhan yang berbeda dan membekas di hati. Perjalanan kedua ini begitu berkesan bagi Kin dan Febri karena Kin manginap di hotel “Mawar Indah” tempat dulu keluarga besar dari suaminya Febri menginap dalam acara pernikahannya dengan Febri. Di kamar hotel itu selepas adzan magrib, Febri dan Kin ijin membatalkan puasanya. Asmara mereka begitu menggebu sehingga mereka mencari akal bagaimana supaya bisa menyalurkan dan memberikan kenangan yang indah . Mereka berdua izin ke orangtua dan mbah untuk sebentar saja mau keluar , tp mereka berdua meluncur ke hotel dan melampiaskan nafsunya di kamar itu dan tak lama mereka kembali lagi kerumah agar orangtua Febri tidak curiga. Hhhhuuuufff…..sepasang kekasih yang terjerat asmara terlarang. Dan dalam perjalanan pulang menuju Jakarta yang sebelumnya mampir ke Kutoarjo.., ada kisah sendiri pula..selama perjalanan itu antara Kin dan Febri selalu mencuri2 kesempatan agar bisa bersentuhan atau membisikkan sesuatu atau bersms mesra atau saling berpandangan dengan penuh getar. Kenangan dari perjalanan itu yaitu kaos hitam bertuliskan “werkudara” yang diberikan Febri untuk 1 keluarganya Kin (istri dan ke2 anaknya Kin). Bukan Kin yang membelikannya tapi semua dari uangnya Febri.

Perjalanan yang ketiga..itu ada suatu skenario yang benar2 dibuat sedemikian rupa oleh Kin karena diperjalanan ketiga ini ada unsur ketiga yang harus ikut campur yaitu istrinya Kin. Walau begitu ..akhirnya bisa berjalan lancar karena istrinya sama sekali tidak curiga akan hal itu. Antara Kin dan Febri awalnya memang berencana untuk ke Solo kali ini dalam rangka menyunatkan anaknya Febri yang pertama dengan menyewa kembali mobil Kin. Namun pada menjelang beberapa hari sebelum keberangkatan, terjadi perselisihan antara Kin dan Febri, yang membuat akhirnya Kin membatalkan mobilnya untuk di sewa. Namun bagi Febri tidak masalah. Dan H-1 tiba2 Kin menarik kembali omongannya.., Kin menginginkan agar mobilnya di sewa Febri, tapi Febri terlanjur sudah pesan tiket bis eksekutif untuk besok perjalanan ke Solo bersama suami dan anak2nya. Tiket itu tidak bisa dibatalkan. Jadilah Febri pergi ke Solo tanpa Kin. Namun selama perjalanan Febri ke Solo, Kin merasa merana, Kin tidak ingin langsung pulang kerumah.., dia tidak ingin , istrinya tau tentang gundah gulananya dia. Kin sms-in terus Febri.., betapa dia merasa ada yang hilang. Dan Kin memikirkan cara bagaimana agar Kin bisa menyusul Febri keesokannya. Lalu dibuatlah seakan seperti apa adanya namun sebenarnya itu skenario. Kin menyuruh istrinya untuk menelpon kakaknya (suami Febri), membujuk agar Kin bisa menyusul dan kakaknya menyewa mobilnya untuk perjalan pulang dari Solo ke Jakarta. Awalnya kakaknya tidak ingin Kin menyusul, karena suami Febri itu diam2 cemburu bila melihat cara bicara dan cara memandang Kin ke istrinya (Febri). Namun suami Febri tidak tega mendengar adik kandungnya (istrinya Kin) dalam percakapan di telepon bernada menangis terisak-isak. Sebagai kakak hatinya terenyuh terlebih untuk tambahan biaya masuk TK anaknya. Percakapan ini masih tersimpan utuh dalam rekaman hp yang saat ini disimpan di kepingan DVD , kebetulan hp suaminya Febri dan hp Febri sendiri dipasang sofware yang bisa otomatis merekam pembicaraan bila ada telepon masuk/keluar.  Akhirnya permintaan adiknya disetujui kakaknya dan disambut gembira oleh Kin. Berangkatlah pada malam itu juga, Kin sendirian dengan mobilnya ke Solo. DAri Jakartajan 9 malam dan sesampai diSolo jam 6 pagi, bertepatan dengan jam sunat anaknya Febri. Bahagia dan senang terpancar dalam wajah Kin yang kelelahan setelah semalaman suntuk menyetir, katanya waktu itu ke Febri “demi cintaku.., aku tak sanggup jauh darimu “. Acara khitananpun berjalan lancar. |Tamunya banyak yang datang, dan sesekali Kin dan Febri bermain mata dan mengambil kesempatan untuk sekedar menyentuh dan keesokan malamnya seusai makan di d’cost solo baru, kin bilang ke suaminya Febri kalau dia butuh uang segera dan suami Febri segera mentransfer ke rekening istrinya Kin karena Febri baca sms di hpnya Kin, istrinya gak punya uang dan pulang kerja sore itu dengan berjalan kaki. Tapi belakangnya diketahui istrinya dikasih uang 100ribu dari orgtuanya . Febri baca sms itu juga karena Kin yang menyuruh. Suaminya Febri begitu baik, dengan segera di transfer malam itu juga. Namun Febri merasa yakin pada saat nanti pulang pasti Kin akan meminta uang ke dirinya, dan benar saja Kin meminta uang untuk isi bensin yang padahal itubukan lagi tanggungan Febri karena suami Febri sudah membayar lunas ke rek adiknya sebagai pembayaran sewa mobil. Hal ini diluar sepengetahuan suaminya Febri dan Febri akhirnya memberikan uang ke Kin untuk selama perjalan pulang ke Jakarta. Namun sebelum pulang ke jakarta, ada suatu kejadian, yaitu pada waktu subuh, Kin curiga dengan phonebook di HPnya Febri yang ada nomor telepon kakaknya. Febripun menceritakan semua bisnis diam2nya ke Kin, bahwa dia diajak bisnis kartu kredit oleh kakaknya. Terjadilah saling berbalas sms anatara Kin dengan kakaknya. Kin tidak suka bila kakaknya menjalin bisnis dengan Febri yang bagi Kin itu kakaknya sudah melanggar janji dan kakaknya beralasan bahwa dia lakukan itu agar bisa memantau hubungan Kin dengan Febri yang bagidia sudah kelewat batas. Kin marah dan melarang untk kakaknya ikut campur dengan urusan Kin dan Febri. Kin tidak mengakui akan skandal itu, walau kakaknya sudah mengetahui dari awal terlebih setelah kejadian barangnya Febri yang pernah ketinggalan di rumah kakaknya di kamar istri kakaknya.



(to be continue..: Maaf..harus bersambung terus karena keterbatasan waktu si penulis.., namun untuk mempersingkat cerita yang nyata ini, akan ada intisari rangkumannya.Dan bukti semua yang ada pun masih tersimpan, baik itu cincin pemberian dari Kin yang sengaja di beli Kin dan mirip dengan kepunyaan Kin dan di belinyapun di Blok M Plaza tempat Kin membelikan cincin untuk istrinya, Bukti Pembelian Febri untuk Kin berupa arloji asli merk ALBA yang tertulis di kartu garansi tertanggal 20-08-2008 dan yang paling penting bukti SMS dari Kin (dari nomor esia Kin 92679*** dan dari 081285***44) yang masih disimpan oleh Febri sampai saat ini,dimana sempat ditunjukkan ke mertuanya Febri namun mertuanya tidak inginmembacanya dan menyuruh menghapus  SMS dari Kin karena khawatir Rumah Tangga anaknya hancur tapi oleh Febri tidak dihapusnya karena mungkin suatu hari akan penting bagi dirinya, agar istrinya Kin atau yang lainnya tahu bahwa bukan dialah yang mengejar atau merayu atau menggoda Kin  tapi Kin sendirilah yang mempunyai rasa dan ingin menguasai Febri.)

Untuk bukti yang berupa SMS ini.., Febri bila diperlukan untuk bersumpahpun, Febri akan lakukan. Karena ini benar adanya. Pernah terbersit untuk mengirimkan kartu GSMnya yang didalamnya ada SMS Kin untuk dirinya itu ke tempat kerja Istrinya Kin di kampus, namun hatinya bimbang..karena sejujurnya Febri lebih kasihan dengan istrinya Kin yang sampai saat ini begitu mudah dikelabui oleh suaminya sendiri. Entah apa karangan cerita yang disampaikan Kin ke istrinya mengenai dirinya.

(JANGAN Lupa untuk baca juga tulisanku yang lain  “KENAPA KAU TEGA”. “It’s All ABOUT ME dan “Orang yang tidak suka dengan diriku..thanks “)

KUNJUNGI JUGA MY WEBSITE DI http://www.yolinaeffendi.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: